Jumat, 15 Juni 2007

Tempayan Retak

Seorang tukang air India memiliki dua tempayan
besar, masing-masing bergantung pada kedua
ujung suatu pikulan, yang dibawa menyilang pada
bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan
tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan
yang utuh itu selalu dapat membawa air penuh,
setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah
majikannya, tempayan retak itu hanya dapat
membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun hal itu terjadi setiap hari. Si
tukang air hanya dapat membawa satu setengah
tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si
tempayan yang utuh merasa bangga akan
prestasinya karena dapat menunaikan tugasnya
dengan sempurna. Namun, si tempayan retak yang
malang itu merasa malu sekali akan
ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia
hanya dapat memberi setengah dari porsi yang
seharusnya dapat diberikannnya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit
ini, tempayan retak itu berkata pada si tukang
air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri,
dan saya ingin mohon maaf kepadamu."

"Kenapa?" tanya si tukang air, "Kenapa kamu
merasa malu?"

"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini,
membawa setengah porsi air dari yang seharusnya
dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi
saya yang membuat air yang saya bawa bocor
sepanjang jalan menuju rumah majikan kita.
Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi,"
kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan
retak, dan dalam belas kasihannya, ia
berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan
besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-
bunga indah di sepanjang jalan."

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan
retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa
ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan
itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir
perjalanan, ia kembali sedih karena separo air
yang dibawanya telah bocor, dan kembali dia minta
maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan
itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-
bunga di sepanjang jalan di sisimu tetapi tidak ada
bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang
lain yang utuh. Itu karena aku selalu menyadari
akan cacatmu dan aku memanfaatkannya.

Aku telah menanam benih-benih bunga di
sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita
berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-
benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat
memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias
meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana
kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias
rumahnya seindah sekarang."

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita
sendiri. Kita semua adalah tempayan retak.
Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan
kekurangan kita untuk menghias-Nya. Di mata
Tuhan yang bijaksana, tidak ada yang terbuang
percuma. Jangan takut akan kekuranganmu.

Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat
menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di
dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan
kita.

Seseorang disebut sebagai orang yang sukses jika
ia bisa tetap hidup dan menikmati kesuksesannya
dengan rasa bersyukur.